Katanya, jadilah kuat seperti batu karang...
Walau dihempas ombak ribuan kali dalam sehari.
Katanya, jadilah perempuan tegar tak kenal lelah...
Walau dilanda masalah yang mungkin tidak berkesudahan.
Baiklah.
Ku akui,
Mereka yang berhasil berdiri kokoh padahal tikaman tajam menghujam dari berbagai sisi..
Hebat. Sangat.
bertepuk tanganlah aku untuk mereka.
Tapi,
Tidak semua orang bisa begitu, biarpun nyatanya mereka pun ingin menjadi sosok yang begitu.
Yang kuat,
Yang tegar,
Yang kokoh,
Yang tidak lemah.
Pernah kah,
Pedih yang kau rasa begitu menusuk sehingga nafasmu pun tercekat susah untuk dihembuskan?
Sesak yang kau rasa begitu penuh sehingga berteriak pun tak sanggup rasanya?
Sedih yang kau tanggung begitu parah sehingga menangis adalah jalan keluar satu-satunya?
Sakit. Sungguh...
Tidak nyaman. Jujur.
Saat ada yang mengira hanya mengemis perhatian, disedih-sedihkan padahal tidak seberapa masalahnya.
Saat ada yang berpikir kita benar-benar berlebihan, kesana dan kesini merintih tiada hentinya.
Tolonglah,
Kamu pikir ini pilihan?
Menjadi orang yang sedang sedih, diinginkan?
Tidak ada yang ingin sedih. Apalagi berlarut.
"Apa sih segitu doang kok,"
"Nih aku aja yaa,"
"Lebay deh,"
Selamat. Anda tidak berperasaan.
Cengeng, memang.
Tapi apa daya,
Pasrah menjadi satu-satunya hal yang paling masuk akal.
Percaya lah,
Orang-orang yang sedang berduka hanya ingin didengar keluh kesahnya. Mohon mengangguk ya.
Kalau memang ingin memberi jalan keluar, tunggu lah sedikit kawan..
Karena sebenarnya, bahkan..
Mereka yang berduka itu sudah tau jawaban untuk masalahnya.
Mereka hanya ingin mengeluh saja,
Betapa semesta kadang terlalu banyak bercanda dengan kehidupannya.
Iya, semesta..
Apa yang diharapkan malah jauh dari kenyataan.
Apa yang diinginkan tidak bisa didapatkan.
Apa yang ada di hadapan ternyata hal yang sungguh tidak direncanakan.
Kan? Banyak bercanda memang.
Entah,
Sudah tetes airmata yang keberapa..
Rasanya jauh lebih menenangkan begini,
Tersedu, mengaku lemah dan tak berdaya pada semesta.
Sudah terlalu letih menanggung duka sendiri,
Maka cukuplah saja diakhiri.
Kenapa? Bagaimana? Jadi harus apa?
Kenapa Saya yang mengalaminya?
Dan pertanyaan lainnya..
Memang tak akan pernah usai rasa ingin tahu seperti ini...
Dari berjuta-juta manusia yang ada di muka bumi ini, tidak bisa kah hal ini terjadi pada orang lain saja? Tidak tahu. Hanya Tuhan yang tahu, kan?
Mari,
Sama-sama belajar dan berlomba menjadi pribadi yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Luka kan mengajarkanmu bangkit walau dengan susah payah,
Mencapai bahagia walau harus dengan terseok parah.
Biarlah bagi mereka isakmu adalah tanda kelemahan...
Nyatanya,
Perih yang kau rasa adalah tanda;
Kau masih menjadi manusia.
///
Nor Yulia Syifa.
01.19, mungkin..
Selamat 2020!
Kamarku, istanaku.
Walau dihempas ombak ribuan kali dalam sehari.
Katanya, jadilah perempuan tegar tak kenal lelah...
Walau dilanda masalah yang mungkin tidak berkesudahan.
Baiklah.
Ku akui,
Mereka yang berhasil berdiri kokoh padahal tikaman tajam menghujam dari berbagai sisi..
Hebat. Sangat.
bertepuk tanganlah aku untuk mereka.
Tapi,
Tidak semua orang bisa begitu, biarpun nyatanya mereka pun ingin menjadi sosok yang begitu.
Yang kuat,
Yang tegar,
Yang kokoh,
Yang tidak lemah.
Pernah kah,
Pedih yang kau rasa begitu menusuk sehingga nafasmu pun tercekat susah untuk dihembuskan?
Sesak yang kau rasa begitu penuh sehingga berteriak pun tak sanggup rasanya?
Sedih yang kau tanggung begitu parah sehingga menangis adalah jalan keluar satu-satunya?
Sakit. Sungguh...
Tidak nyaman. Jujur.
Saat ada yang mengira hanya mengemis perhatian, disedih-sedihkan padahal tidak seberapa masalahnya.
Saat ada yang berpikir kita benar-benar berlebihan, kesana dan kesini merintih tiada hentinya.
Tolonglah,
Kamu pikir ini pilihan?
Menjadi orang yang sedang sedih, diinginkan?
Tidak ada yang ingin sedih. Apalagi berlarut.
"Apa sih segitu doang kok,"
"Nih aku aja yaa,"
"Lebay deh,"
Selamat. Anda tidak berperasaan.
Cengeng, memang.
Tapi apa daya,
Pasrah menjadi satu-satunya hal yang paling masuk akal.
Percaya lah,
Orang-orang yang sedang berduka hanya ingin didengar keluh kesahnya. Mohon mengangguk ya.
Kalau memang ingin memberi jalan keluar, tunggu lah sedikit kawan..
Karena sebenarnya, bahkan..
Mereka yang berduka itu sudah tau jawaban untuk masalahnya.
Mereka hanya ingin mengeluh saja,
Betapa semesta kadang terlalu banyak bercanda dengan kehidupannya.
Iya, semesta..
Apa yang diharapkan malah jauh dari kenyataan.
Apa yang diinginkan tidak bisa didapatkan.
Apa yang ada di hadapan ternyata hal yang sungguh tidak direncanakan.
Kan? Banyak bercanda memang.
Entah,
Sudah tetes airmata yang keberapa..
Rasanya jauh lebih menenangkan begini,
Tersedu, mengaku lemah dan tak berdaya pada semesta.
Sudah terlalu letih menanggung duka sendiri,
Maka cukuplah saja diakhiri.
Kenapa? Bagaimana? Jadi harus apa?
Kenapa Saya yang mengalaminya?
Dan pertanyaan lainnya..
Memang tak akan pernah usai rasa ingin tahu seperti ini...
Dari berjuta-juta manusia yang ada di muka bumi ini, tidak bisa kah hal ini terjadi pada orang lain saja? Tidak tahu. Hanya Tuhan yang tahu, kan?
Mari,
Sama-sama belajar dan berlomba menjadi pribadi yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Luka kan mengajarkanmu bangkit walau dengan susah payah,
Mencapai bahagia walau harus dengan terseok parah.
Biarlah bagi mereka isakmu adalah tanda kelemahan...
Nyatanya,
Perih yang kau rasa adalah tanda;
Kau masih menjadi manusia.
///
Nor Yulia Syifa.
01.19, mungkin..
Selamat 2020!
Kamarku, istanaku.
Komentar
Posting Komentar